Rabu, 29 Juli 2015

Menyapih dari botol susu, duh dramanya!


Sekarang Radith sudah 2 tahun 10 bulan.. dan saya sedang bingung bagaimana caranya menyapih Radith dari botol susunya -__-! 

Sebelumnya saya berhasil menyapih Radith pada usia 2 tahun 3 minggu. Kemudian aktivitas menyusunya saya alihkan menggunakan botol susu karena dia lebih seneng minum susu sambil tiduran -sampai sekarang-

Sekarang sih Radith sudah bisa minum menggunakan gelas -bahkan bisa mengambil air putih sendiri di dispenser-, sudah mahir minum menggunakan botol air minum tanpa tumpah, sudah bisa minum menggunakan sedotan... tapiii, giliran diminta minum susu menggunakan gelas atau alat minum lainnya selain botol susu masih nggak mau sampe sekarang.

Tiap kali saya mencoba membuatkan susu menggunakan gelas, pasti Radith nggak mau dan menangis bombay.. dan drama drama drama... :(

Mana kalo udah nangis tuh suara tangisan dan jeritannya sengaja dimaksimalin,, pokoknya  lebay dan volumenya to the max! kalo tetangga denger pasti ngiranya udah terjadi KDRT di rumah, huhuhu..

Pernah saya coba memberikan susu menggunakan training cup, nggak mau! Menggunakan botol minum, nggak mau! Gelas, apalagi.... Pokoknya kalo susu, maunya ya pake botol dot, duh!

Padahal kalo dilihat dari body, Radith udah nggak pantes lagi minum dari botol susu.. Lha di usianya yang sekarang aja, bodynya udah kayak anak usia 5 tahunan, byuh! 

Berkali - kali saya sounding sampai sekarang masih belum berhasil juga. 

Baiklah.... Mungkin saya memang harus bersabar :)

Tetap semangat, semoga berhasil ya ^^!

Senin, 23 Februari 2015

Memerah ASIP saat business trip? bisa dong :)

Masih menyusui tetapi sudah harus business trip kemana - mana karena tuntutan pekerjaan? Saya pernah mengalaminya :). Profesi saya sebagai seorang researcher menuntut saya untuk selalu mobile kemana - mana. Lingkup kerja saya mulai dari bekerja dalam ruangan sampai melakukan business trip ke pelosok negeri dan kadang keluar negeri. Semua itu saya lakukan selama saya masih menyusui Radith. Bagi saya pribadi, pekerjaan yang saya geluti cukup menantang untuk bisa berhasil dalam memberi ASI secara eksklusif bagi anak.

Saya cukup beruntung mendapatkan dukungan yang saya butuhkan. Saya mempunyai rekan dan iklim kerja yang bersahabat dengan ibu menyusui. Selama di kantor, saya diberi kelonggaran untuk memerah ASI pada jam berapapun, bahkan hal tersebut sudah diatur dalam PKB (Perjanjian Kerja Bersama) dalam perusahaan kami. Jadi seringnya saat sedang meeting atau seminar atau kegiatan apapun itu saya bisa sewayah - wayah tiba - tiba menghilang ke ruangan khusus saya dan memerah ASI dengan tenang. 

Karena pekerjaan saya juga menuntut untuk banyak melakukan traveling, saya berusaha untuk mengatur jadwal agar tidak traveling terlalu lama, maksimal satu minggu. Kenapa satu minggu? karena cooler box saya yang volume 12 liter hanya muat untuk menampung stok ASIP selama satu minggu perah... Ups, bukan itu ding alasannya :D Sebenarnya saya lebih menjaga bonding dengan anak dan syukurlah rekan kerja saya memahami. Jadi kalau saya harus traveling lebih dari satu minggu, saya dapat meminta rekan lain untuk menggantikan.. :)

Pada saat rutinitas saya lebih banyak di kantor atau cukup melakukan perjalanan antara "rumah - kantor", maka relatif lebih mudah mengatur pola memerah ASIP. Yang diperlukan hanya ruangan laktasi untuk memerah ASI dan perlengkapan untuk menyimpan ASIP seperti freezer yang sudah tersedia di kantor dan cooler bag, ice gel untuk membawa ASIP pulang ke rumah. Tetapi jika saya melakukan traveling, ada banyak hal yang perlu saya siapkan.

1. Menyerahkan pengasuhan anak pada seseorang yang terpercaya: Meninggalkan anak untuk business trip sangat berat, apalagi kalau masih fase menyusui. Saya sering disebut sebagai ibu tega karena meninggalkan anak yang masih bayi dan membutuhkan ASI. Apalagi posisi saya saat ini tinggal berjauhan dengan suami dan orang tua/mertua, sehingga saya benar - benar single fighter di kota tempat tinggal saya ini. Ayee..!!
Jadi beruntunglah ibu yang bisa menitipkan anak ke suami, orang tua, mertua atau saudara selagi traveling, karena saya yakin pasti akan jauh - jauh lebih tenang meninggalkan anak di tangan orang terdekat.
Kunci untuk kondisi saya adalah mencari pengasuh anak yang benar - benar dapat dipercaya, dan juga harus berbaik - baik dengan tetangga sehingga jika tiba - tiba terjadi sesuatu pada anak dapat segera direspon, hehehe... Sejauh ini saya tidak mengalami masalah apapun selagi meninggalkan anak di tangan pengasuhnya..
Terkadang ada beberapa opini yang menyebutkan bahwa jika anak diasuh oleh pengasuh, maka akan jadi anak pengasuh/anak pembantu dan tidak dekat dengan ibu.. Sampai saat ini Radith tetep lengket dengan saya walaupun sering saya tinggal traveling. Kalau sudah ada saya di rumah, si Emak (pengasuh Radith) sudah tidak laku lagi.. :p

2. Mencari informasi sebanyak - banyaknya mengenai lokasi yang akan dituju: Lokasi tujuan trip saya sangat random. Adakalanya saya hanya menghadiri conference atau workshop dan stay di satu hotel, kadang harus ke satu daerah yang tidak tersedia fasilitas hotel/losmen sehingga harus menginap di rumah penduduk lokal dan kadang juga harus berpindah - pindah kota dalam satu kali trip. Penting untuk mengetahui jenis dan kondisi lokasi yang akan saya tuju selama traveling karena akan menentukan apa saja peralatan yang akan saya bawa.
Jika saya "hanya" mengikuti workshop di satu hotel selama beberapa hari, maka saya cukup menitipkan ASIP saya di kitchen hotel karena biasanya freezer yang tersedia di dalam kamar tidak mencukupi kapasitasnya untuk menampung ASIP yang saya perah. Saya tinggal mendatangi resto dan menyerahkan ASIP dan biasanya ASIP tersebut akan diberi label dan identitas sehingga tidak akan tertukar.
Jika harus menginap di rumah penduduk lokal, selalu saya pastikan bahwa mereka mempunyai lemari es. Ini penting karena jika tidak tersedia, maka ASIP akan terbuang sia - sia selama traveling. Jika di lokasi tersebut tidak ada penduduk yang memiliki lemari es, maka saya akan minta rekan kerja lain untuk menggantikan saya, hehehe :D
Dan jika harus traveling berpindah - pindah kota, maka saya akan memastikan bahwa di setiap kota yang saya hinggapi tuju tersebut memiliki hotel yang cukup oke dan jarak dari satu kota ke kota yang lain tidak terlalu jauh sehingga jika harus pindah - pindah hotel, ASIP saya tidak rusak karena dibawa perjalanan jauh.
Kriteria oke menurut saya adalah jika hotel tersebut menyediakan lemari es dalam kamar, karena hal tersebut lebih memudahkan dalam menyimpan ASIP. Saya cukup memerah ASIP dalam kamar dan kemudian saya simpan dalam lemari es dan baru saya titipkan keesokan harinya waktu sarapan. Tetapi khusus untuk ice gel, saya selalu pastikan untuk menyimpan di kitchen hotel karena untuk menyimpannya harus dalam freezer. Untuk mencari hotel dengan fasilitas macam itu di kota - kota besar sangatlah mudah, tetapi jika harus bepergian ke kota - kota kecil atau ke daerah pelosok maka jenis hotel macam ini relatif sulit di dapat. Jika memang kondisinya seperti itu, maka saya akan lebih rajin bolak balik antara kamar dan kitchen untuk menitipkan ASIP, hee..
Yap, selalu ada solusi kan :D

3. Membawa perlengkapan perang memerah ASIP yang sesuai: Saat ini banyak tersedia perlengkapan untuk memerah ASIP yang cukup memudahkan ibu bekerja dan dapat diandalkan untuk traveling. Perlengkapan utama saya yang tidak boleh ketinggalan adalah breastpump karena jujur saya tidak bisa memerah menggunakan tangan, huh! pernah mencoba berkali - kali tetapi tetap saja gagal... yasudahlah... akhirnya saya menyerah dan benar - benar mengandalkan breastpump, hehe... 
Dan yang juga selalu ada dalam cek list saya adalah cooler bag, item ini selalu saya bawa baik untuk harian atau untuk traveling.. benar - benar membantu untuk menyimpan ASIP dalam jangka waktu pendek. Jangan lupa sertakan ice gelnya ;)
Perlengkapan lain yang tidak boleh ketinggalan adalah cooler box dan kantong ASIP... cooler box saya berukuran 12 liter dan saya bawa untuk menyimpan seluruh ASIX hasil perah, jadi biasanya kalo pas berangkat ya kosong nanti pas pulang traveling sudah kayak penjual es keliling :D
Kantong ASIP saya pilih karena lebih ringkas daripada menggunakan botol.. tetapi jika saya tidak traveling, maka saya akan menggunakan botol untuk menyimpan ASIP..

4. Ruang laktasi: Selain semua perlengkapan tersebut, ruang laktasi juga sangat penting. Saat ini di area publik seperti bandara dan stasiun kereta sudah tersedia ruang laktasi dan hal itu sangat sangat membantu. Pada saat saya sedang nemplok transit di bandara/stasiun saya bisa memerah ASIP dengan nyaman dan tidak perlu memerah di toilet.
Kalau tidak menemukan/tidak ada ruang laktasi bagaimana? tenaang, masih ada masjid di pinggir jalan yang bisa digunakan, hehehe... Bahkan kadang saya numpang di rumah penduduk untuk numpang memerah ASIP... Pokoknya semua tempat bisa dijadikan ruang laktasi asal bersih... Intinya sih jangan sampe memerah ASIP di toilet karena tidak higienis..
Kalau tetap tidak menemukan ruang untuk memerah ASIP bagaimana? masih bisa juga memerah di dalam kendaraan dengan menggunakan apron, hoho... Tapi untuk penggunaan apron ini biasanya saya batasi hanya jika kondisinya sudah darurat harus diperah :D
Karena pengalaman saat business trip lintas kota dengan beberapa rekan pria dan kemudian saya bilang ingin memerah ASIP, mereka keberatan kalau saya memerah di mobil. Akhirnya mereka mencarikan masjid terdekat untuk aktivitas perah - memerah saya ini, hahaha... Katanya berbahaya kalau saya memerah ASIP di dalam mobil, karena mereka bakal membayangkan yang tidak - tidak, hahahaha..!! dasar pria! :D

Oke, kalo semua sudah siap, maka business trip bisa dilakukan dengan hati tenang dan nyaman... :)



Minggu, 22 Februari 2015

Pengalaman Menyapih Radith


Sekarang Radith sudah berusia 2 tahun 5 bulan dan sudah berhasil disapih sejak usia 2 tahun 3 minggu..

Dulu waktu awal menyusui saya rencanakan untuk menyapih Radith minimal pada usia 2,5 tahun karena setelah baca dan tanya sana sini katanya lebih baik anak dibiarkan menyusu sepuasnya agar nantinya tidak kaget waktu lepas ASI. Tapi itu dulu, waktu aktivitas menyusui masih menjadi aktivitas yang menyenangkan karena gigi Radith belum banyak yang tumbuh. Setelah Radith mulai masuk usia 20 bulan, saya merubah rencana..! Karena ternyata saya tidak kuat menyusui sampe Radith berusia 2,5 tahun, hee..

Pada saat usia Radith 20 bulan, puting ini mulai lecet – lecet karena gigi susu Radith mulai tumbuh makin banyak, sehingga saya harus rutin mengoleskan salep untuk puting. Rasanya jangan ditanya, menyiksa sekali, puting rasanya perih dan ugh..!!... Padahal frekuensi menyusu Radith masih sangat intens, 2 jam sekali pasti minta ASI.. Jadi setiap kali dia minta ASI, pasti saya tarik nafas dulu panjang – panjang dan tahan nafas, setelah Radith nyusu baru kemudian bernafas normal, hehehe...

Setelah itu, saya coba untuk mengurangi frekuensi menyusui Radith. Awalnya pelan – pelan mengurangi jadwal menyusu pada malam hari kemudian memundurkan jadwal menyusu sepulang kantor, ya dulu setiap saya pulang kantor sore hari pasti Radith langsung menyambar memeluk dan menodong untuk menagih ASI. Kemudian pelan – pelan jadwal menyusu di sore hari itu dimundurkan 1 sampai 2 jam dengan cara saya ajak main untuk mengalihkan perhatiannya.

Lecet di puting makin parah waktu itu tapi saya tetep berusaha bagaimana caranya bisa menyusui sampai 2 tahun. Karena memang saat ada saya, Radith sama sekali tidak mau menyusu dari botol. Mungkin sebagai konsekuensi karena seharian ditinggal kerja sehingga kalau pas ada emaknya jadi nggak mau menyusu dari botol, ini sih hanya perkiraan saya saja. Saat itu saya makin sering melakukan sounding ke Radith agar stop menyusu setelah 2 tahun, karena sudah besar bla bla bla.. Pelan – pelan mulai terlihat hasilnya. Yang awalnya Radith tidak mau menyusu dari botol waktu ada saya, mulai mau menyusu dari botol untuk sesi meyusu sore hari. Jadwal menyusu malam juga pelan – pelan dialihkan menjadi menyusu dari botol, awalnya memang menolak karena mungkin rasanya beda tapi lama – lama mau juga.

Selama proses menyapih tersebut saya masih tetap memerah ASI tanpa mengurangi frekuensinya. jika Radith berhasil tidak menyusu sore hari, maka malam hari saya akan memerah ASI dan kemudian disimpan. Begitu juga pada waktu malam hari jika Radith mau menyusu dari botol, maka  ASI yang tidak dikonsumsi Radith akan saya perah. Tetapi makin kesini, jadwal perah tersebut dikurangi menjadi 1x dalam sehari semalam.

Pada usia 23 bulan, Radith sudah tidak nodong lagi minta jatah menyusu sore hari dan tidak menolak kalo jatah menyusunya diganti dengan menyusu menggunakan botol. Jadwal menyusu tengah malam masih berlanjut dan karena saat itu Radith kadang sudah mau menyusu dari botol sehingga konsekuensinya adalah saya harus bangun tengah malam dan ucluk – ucluk ke dapur untuk membuatkan susu, bandingkan dulu waktu masih menyusui, kan tinggal buka pabrik langsung sedot dan saya bisa lanjut tidur lagi sambil menyusui, hehehe.. :D :D

Saat usia 24 bulan, Radith sudah bisa stop menyusu langsung. Semua jadwal menyusu siang dan malam sudah bisa digantikan dengan susu botol. Akhirnya pada saat usia 24 bulan 3 minggu, Radith resmi disapih dan saya juga sudah tidak memerah ASI lagi. Dan karena jadwal perah yang memang makin kesini makin dikurangi, saya tidak merasakan demam karena stop menyusui.. syukurlah..


Sekarang? Saya sering menggoda Radith dengan memperlihatkan payudara dan meminta dia untuk menyusu, hasilnya dia geleng – geleng sambil bergidik risih, hahahaha.. Satu hal lagi yang membuat bahagia adalah sekarang Radith sudah tidak lagi terbangun tengah malam untuk minta susu.. dan saya bisa kembali menikmati mewahnya bisa tidur sepanjang malam tanpa harus terbangun 2 jam sekali untuk menyusui :D