Sekarang Radith sudah berusia 2 tahun
5 bulan dan sudah berhasil disapih sejak usia 2 tahun 3 minggu..
Dulu waktu
awal menyusui saya rencanakan untuk menyapih Radith minimal pada usia 2,5 tahun
karena setelah baca dan tanya sana sini katanya lebih baik anak dibiarkan menyusu
sepuasnya agar nantinya tidak kaget waktu lepas ASI. Tapi itu dulu, waktu aktivitas
menyusui masih menjadi aktivitas yang menyenangkan karena gigi Radith belum
banyak yang tumbuh. Setelah Radith mulai masuk usia 20 bulan, saya merubah
rencana..! Karena ternyata saya tidak kuat menyusui sampe Radith berusia 2,5
tahun, hee..
Pada saat usia Radith 20 bulan,
puting ini mulai lecet – lecet karena gigi susu Radith mulai tumbuh makin
banyak, sehingga saya harus rutin mengoleskan salep untuk puting. Rasanya
jangan ditanya, menyiksa sekali, puting rasanya perih dan ugh..!!...
Padahal frekuensi menyusu Radith masih sangat intens, 2 jam sekali pasti minta
ASI.. Jadi setiap kali dia minta ASI, pasti saya tarik nafas dulu panjang –
panjang dan tahan nafas, setelah Radith nyusu baru kemudian bernafas normal,
hehehe...
Setelah itu, saya coba untuk
mengurangi frekuensi menyusui Radith. Awalnya pelan – pelan mengurangi jadwal
menyusu pada malam hari kemudian memundurkan jadwal menyusu sepulang kantor,
ya dulu setiap saya pulang kantor sore hari pasti Radith langsung menyambar
memeluk dan menodong untuk menagih ASI. Kemudian pelan – pelan jadwal
menyusu di sore hari itu dimundurkan 1 sampai 2 jam dengan cara saya ajak
main untuk mengalihkan perhatiannya.
Lecet di puting makin parah
waktu itu tapi saya tetep berusaha bagaimana caranya bisa menyusui sampai 2
tahun. Karena memang saat ada saya, Radith sama sekali tidak mau menyusu dari
botol. Mungkin sebagai konsekuensi karena seharian ditinggal kerja sehingga
kalau pas ada emaknya jadi nggak mau menyusu dari botol, ini sih hanya perkiraan
saya saja. Saat itu saya makin sering melakukan sounding ke Radith agar stop
menyusu setelah 2 tahun, karena sudah besar bla bla bla.. Pelan – pelan mulai
terlihat hasilnya. Yang awalnya Radith tidak mau menyusu dari botol waktu ada
saya, mulai mau menyusu dari botol untuk sesi meyusu sore hari. Jadwal
menyusu malam juga pelan – pelan dialihkan menjadi menyusu dari botol,
awalnya memang menolak karena mungkin rasanya beda tapi lama – lama mau juga.
Selama proses menyapih tersebut saya
masih tetap memerah ASI tanpa mengurangi frekuensinya. jika Radith berhasil
tidak menyusu sore hari, maka malam hari saya akan memerah ASI dan kemudian disimpan.
Begitu juga pada waktu malam hari jika Radith mau menyusu dari botol, maka ASI yang tidak dikonsumsi Radith akan saya
perah. Tetapi makin kesini, jadwal perah tersebut dikurangi menjadi 1x dalam
sehari semalam.
Pada usia 23 bulan, Radith sudah tidak
nodong lagi minta jatah menyusu sore hari dan tidak menolak kalo jatah
menyusunya diganti dengan menyusu menggunakan botol. Jadwal menyusu tengah
malam masih berlanjut dan karena saat itu Radith kadang sudah mau menyusu dari
botol sehingga konsekuensinya adalah saya harus bangun tengah malam dan ucluk –
ucluk ke dapur untuk membuatkan susu, bandingkan dulu waktu masih menyusui, kan
tinggal buka pabrik langsung sedot dan saya bisa lanjut tidur lagi sambil
menyusui, hehehe.. :D :D
Saat usia 24 bulan, Radith sudah bisa
stop menyusu langsung. Semua jadwal menyusu siang dan malam sudah bisa
digantikan dengan susu botol. Akhirnya pada saat usia 24 bulan 3 minggu, Radith
resmi disapih dan saya juga sudah tidak memerah ASI lagi. Dan karena jadwal
perah yang memang makin kesini makin dikurangi, saya tidak merasakan demam
karena stop menyusui.. syukurlah..
Sekarang? Saya sering menggoda Radith
dengan memperlihatkan payudara dan meminta dia untuk menyusu, hasilnya dia
geleng – geleng sambil bergidik risih, hahahaha.. Satu hal lagi yang membuat bahagia adalah sekarang Radith sudah tidak lagi terbangun tengah malam untuk minta susu.. dan saya bisa kembali menikmati mewahnya bisa tidur sepanjang malam tanpa harus terbangun 2 jam sekali untuk menyusui :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar