Jumat, 09 November 2012

ASI lintas propinsi (antara Jatim dan Jateng)

Jumat sore, waktunya ke Solo menemui Radith.
Rasanya sudah sangat sangat sangat kangen.. lima hari yang terlewati rasanya begitu lama.. saya benar - benar merasakan teori relativitas Einstein, hehe..

Saat ini saya tinggal di Jember karena memang bekerja disini, sedangkan Radith sementara dititipkan di rumah orang tua di Solo karena sampai saat ini kami belum mendapatkan pengasuh untuk Radith. Sementara suami juga bekerja di kota lain, di Semarang.. jadi ayee banget kan, hehe.. 

Pulang kali ini berbeda karena saya sambil membawa stok ASIP yang sudah saya perah selama lima hari di Jember.. jadilah tampilan saya seperti pengasong minuman dingin, haha.. karena saya memang membawa cooler box ukuran 12 liter untuk wadah ASIP.. Padahal biasanya saya adalah orang yang paling malas berepot - repot membawa banyak bawaan kalau pergi kemana pun.. tapi sejak Radith lahir, semua kebiasaan itu jadi berubah, hehe

ASIP beku tersebut saya susun rapih dalam cooler box yang sudah diberi icepack. Agar awet selama di perjalanan maka saya pakai empat icepack sekaligus :)
Ada moment yang sempat membuat khawatir.. saat saya sudah sampai Jombang tiba - tiba jalanan macet dan merayap.. cukup khawatir ASIP mencair.. tapi syukurlah saat tiba di rumah, ASIP tersebut tetap beku :)

Alhamdulillah ASIP tersebut bisa tahan dalam perjalanan panjang sekitar 12 jam :)
begitu sampai rumah, langsung ASIP - ASIP tersebut saya pindahkan ke freezer.
dan yang membuat makin bahagia adalah tawa lucu Radith yang menyadari mamanya sudah pulang.

#peluk Radith
#semoga segera dapat pengasuh ya Nak

Kamis, 08 November 2012

Pejuang ASI

Sekarang saya adalah pejuang ASI :)

Saat saya cuti melahirkan selama tiga bulan (satu bulan sebelum melahirkan dan dua bulan sesudah melahirkan), saya dapat menyusui Daffa secara eksklusif selama dua bulan. Alhamdulillah Daffa sehat dan berat badannya selalu meningkat setiap minggu sehingga kekhawatiran saya mengenai apakah jumlah ASI saya mencukupi atau tidak untuk Daffa terjawab sudah.. Daffa lahir dengan berat 3,1 kg (normal dan sehat walaupun saya terkena preeklamsia) dan saat usia dua bulan sudah naik menjadi 6,3 kg!!

Tapi semakin mendekati hari - hari terakhir cuti saya mulai berpikir keras.. bagaimana caranya agar saya dapat tetap memberikan ASI ke Daffa di saat saya sudah mulai bekerja.. 

Saya dalam kondisi yang menyebabkan saya harus terpisah dengan Daffa.. Saya bekerja di Jember sedangkan suami bekerja di Semarang. Selama ini kami tinggal terpisah dan hanya bertemu di saat akhir pekan saja sedangkan saya sekarang masih belum menemukan pengasuh untuk merawat Daffa selama saya tinggal kerja. Di satu sisi, pekerjaan saya juga mengharuskan saya untuk selalu mobile, dalam artian tidak hanya stay di Jember tetapi juga harus keluar kota selama beberapa waktu bahkan kadang sampai keluar negeri sehingga agak sulit untuk menemukan pengasuh yang benar - benar dapat dipercaya untuk mengasuh Daffa.. karena jika saya harus keluar kota itu berarti Daffa hanya akan ditemani pengasuhnya saja (tapi semoga kami segera menemukannya)..

Pada saat harinya tiba saya harus meninggalkan Daffa, saya berusaha menguatkan diri untuk tidak menangis atau menampakkan wajah sedih :) saya benar - benar menjaga agar dapat tetap ceria dan bersikap biasa saja walopun hati saya berkecamuk. Oke, saya berhasil :) saat meninggalkan Daffa, saya bisa tetap tersenyum dan pamitan ke Daffa bahwa saya tidak akan lama meninggalkannya, bahwa minggu depan saya sudah akan kembali lagi ke Solo.. tapi pertahanan saya runtuh saat saya mulai pergi meninggalkan rumah, saya menangis sejadi-jadinya di bahu suami saya.. sungguh... rasanya tak tergambarkan.....

Begitu sampai di Jember saya segera menyiapkan perlengkapan perang pejuang ASI :)
*Breastpump
*Kantong ASI
*Cooler bag + Icegel yang tahan dingin sampai dengan 15 jam
*Cooler box + Icepack yang tahan dingin sampai dengan 24 jam
*Label
*Bolpoint

Jadi yang saya lakukan sama dengan para ibu perah yang lain, hanya bedanya saya tidak bisa langsung memberikan ASI perah saya langsung ke Daffa setelah saya perah, tetapi musti menunggu selama paling cepat satu minggu baru bisa saya bawa pulang atau saya kirim melalui jasa pengiriman..
Walaupun saya terpisah dari Daffa, saya tetap berkomitmen memberinya ASI (sebagai gambaran, jarak Jember - Solo adalah 12 jam perjalanan).. jadi selama di Jember, saya tetap memerah ASI saya yang sampai sekarang produksinya masih banyak.
Saat di kantor atau di rumah, saya tetap memerah ASI dan kemudian saya masukkan ke dalam kantong ASI dan disimpan di dalam freezer (diberi tanggal dan jam perah). Sebagai wadah untuk transfer ASI perah dari kantor menuju rumah, saya menggunakan cooler bag yang didalamnya diberi icegel.. Begitu hari Jumat tiba, ASI-ASI perah yang sudah terkumpul saya bawa pulang ke Solo dengan menggunakan cooler box yang sudah diberi icepack agar ASI saya tetap awet dan tidak rusak :)

Minggu ini adalah minggu pertama saya meninggalkan Daffa, hari-hari awal saya rasakan sangat berat sekali.. bahkan kadang saya merasa kalau jangan - jangan saya terkena depresi ringan, hehe.. karena emosi saya menjadi sangat labil.. saya bisa sangat sedih dan tiba - tiba menangis jika ingat Daffa, tapi saya juga bisa senang hanya dengan melihat video atau foto - fotonya.. bahkan selama satu minggu ini saya memilih untuk tidak menghubungi Daffa karena hal tersebut malah membuat saya menangis.. saya hanya meminta update perkembangan Daffa melalui foto atau video yang dikirim adik saya melalui whatsApp..
Kadang saat di kantor dan tiba - tiba ingat Daffa, saya langsung lari ke toilet dan menangis di dalam toilet sepuasnya, begitu keluar toilet dan kembali ke meja, muka saya sudah lempeng/datar dan ceria lagi, hehe :D dan karena saya adalah wanita tangguh, saya memilih untuk bersikap tegar.. ;)

Saat ini saya berdoa semoga bisa segera mendapatkan pengasuh sehingga Daffa bisa segera saya ajak tinggal di Jember dan bisa lebih maksimal memberinya ASI eksklusif.. :)

Selamat berjuang untuk para pejuang ASI :)


Rabu, 07 November 2012

Preeklamsia

Posting pertama di blog ini :)

Yep Preeklamsia, diagnosis itu diucapkan oleh dokter kandungan yang menangani saya, rasanya tidak percaya karena selama delapan bulan kehamilan kondisi saya selalu baik. Saya masih bisa beraktivitas kesana - kemari, masih bisa dinas keluar kota, tensi selalu normal setiap bulannya dan hampir sebagian besar rekan kerja menganggap saya sebagai wanita hamil paling sehat yang pernah ditemuinya -_-!

Tapi memang itulah yang terjadi..

Saya mengalami Preeklamsia atau keracunan kehamilan.

Selama delapan bulan kehamilan, saya selalu rutin mendatangi dokter kandungan dan semuanya normal. Kemudian saya cuti melahirkan sebulan sebelum HPL -HPL tanggal 11 September 2012- dan rencananya mau melahirkan di rumah orang tua (Solo). Sebelum berangkat ke Solo, saya periksa dulu ke dokter kandungan saat usia kehamilan 36 minggu dan semua dinyatakan normal alias saya bisa melahirkan normal. Saat itu kaki memang sudah agak bengkak (salah satu gejala preeklamsia) tapi kata dokter kandungan, itu masih normal karena tensi saya tidak tinggi... Jadi pastinya bahagia dong, karena sejak awal memang ingin melahirkan normal :)

Selama menikmati masa cuti di rumah untuk menunggu saatnya melahirkan pun saya masih beraktivitas normal, bahkan masih ke Jogja untuk berlebaran ke rumah mertua, masih sempat shopping ke Malioboro, masih jalan - jalan ke Solo Grand Mall #eaaa

Karena mengetahui kalau bisa melahirkan normal, maka saya memilih untuk melahirkan di bidan terdekat yang sudah punya reputasi baik. Ternyata saat periksa ke bidan pada usia kandungan 38 minggu, tensi saya tinggi (150/100) sehingga bidan tersebut menyarankan untuk menurunkan tensi dulu, kalau tensi sudah turun bidan tersebut baru bersedia membantu saya melahirkan normal. Dari situ saya sudah mulai agak khawatir kalau terkena Preklamsia.. Selama seminggu saya hanya mengkonsumsi jus seledri, jus mentimun, sayur - sayuran dan mengindari daging.. Setelah seminggu berjalan dan kembali periksa ke bidan ternyata tensi masih tinggi dan saya disarankan untuk konsultasi ke dokter kandungan yang direkomendasikannya.

Sore hari berikutnya saya datang ke Rumah Sakit dimana dokter kandungan tersebut praktek dan langsung didiagnosis preeklamsia setelah hasil uji laboratorium saya keluar. glodak dah!! yang saya khawatirkan terjadi... Gejala yang muncul sudah positif mengarah ke preeklamsia yaitu kaki bengkak, tensi tinggi (waktu itu terukur 150/100) dan urine positif mengandung protein dengan kisaran (+1).

Saat itu usia kehamilan saya 39 minggu.

Saya bertanya ke dokter yang menangani, kisaran kadar protein urine itu ada berapa? menurutnya ada empat (+1 s/d +4) dan mestinya hasil pemeriksaan adalah negatif. Jadi walaupun kadar protein urine saya waktu itu (+1) tetap harus langsung dirawat.

Jadi malam itu juga saya harus opname! tadinya saya menawar ke dokter untuk opname besok paginya saja karena saya benar - benar tidak ada persiapan untuk opname karena memang niatnya ke dokter itu hanya untuk periksa saja. Tapi kata dokter apa? "tidak bisa, ibu harus malam ini juga dirawat karena kalau pulang dikhawatirkan kejang - kejang. Bayinya kita ignore, yang penting keselamatan ibu" Gubrak!!

Yasudah, jadilah malam itu saya terdampar di Rumah Sakit dengan terbengong - bengong karena tidak menyangka kalau akan langsung di opname. Pada saat di opname saya sempat bertanya sampai kapan? katanya sampai saatnya melahirkan???, sedangkan saat itu saya belum merasakan adanya kontraksi atau pecah ketuban karena HPL saya masih seminggu lagi. Dan yang lebih membuat kaget adalah paginya jam setengah enam langsung diputuskan untuk operasi caesar!! karena setelah semalam di observasi, tensi saya masih tetap tinggi (140/100).

Tapi memang dari yang saya baca sana sini, penanganan preeklamsia adalah dengan sesegera mungkin mengakhiri kehamilan.

Alhamdulillah bayi saya sehat, saya sehat :)

Preeklamsia memang berbahaya, tapi dengan penanganan yang tepat insya Allah si ibu dan bayi sehat semua.

Jadi,, masukan untuk para bumil yang sedang menanti buah hati.. menjaga kehamilan tuh ternyata tidak hanya di trimester awal saja, tapi ternyata sampai saatnya melahirkan.. Kasus saya, selama delapan bulan selalu dalam kondisi baik dan normal ternyata saat tiba waktunya mendekati melahirkan langsung terdeteksi preeklamsia.

Kalo perkiraan saya sendiri sih, pencetusnya sepertinya adalah pola makan.. saat mulai cuti sebulan sebelum HPL, saya langsung melancarkan aksi wisata kuliner masakan khas Solo macam tengkleng, sate, tongseng, selat, sego liwet dll dll terutama yang di Jember tidak ada... hehe... saya berani makan macam begituan karena memang dokter kandungan saya yang di Jember tidak pernah melarang - larang untuk mengkonsumsi apapun, ahahaha.. #ups :D

Selamat menanti buah hati yaa.. :)

link mengenai Preeklamsia dapat dibaca di sini dan di sini