Rabu, 07 November 2012

Preeklamsia

Posting pertama di blog ini :)

Yep Preeklamsia, diagnosis itu diucapkan oleh dokter kandungan yang menangani saya, rasanya tidak percaya karena selama delapan bulan kehamilan kondisi saya selalu baik. Saya masih bisa beraktivitas kesana - kemari, masih bisa dinas keluar kota, tensi selalu normal setiap bulannya dan hampir sebagian besar rekan kerja menganggap saya sebagai wanita hamil paling sehat yang pernah ditemuinya -_-!

Tapi memang itulah yang terjadi..

Saya mengalami Preeklamsia atau keracunan kehamilan.

Selama delapan bulan kehamilan, saya selalu rutin mendatangi dokter kandungan dan semuanya normal. Kemudian saya cuti melahirkan sebulan sebelum HPL -HPL tanggal 11 September 2012- dan rencananya mau melahirkan di rumah orang tua (Solo). Sebelum berangkat ke Solo, saya periksa dulu ke dokter kandungan saat usia kehamilan 36 minggu dan semua dinyatakan normal alias saya bisa melahirkan normal. Saat itu kaki memang sudah agak bengkak (salah satu gejala preeklamsia) tapi kata dokter kandungan, itu masih normal karena tensi saya tidak tinggi... Jadi pastinya bahagia dong, karena sejak awal memang ingin melahirkan normal :)

Selama menikmati masa cuti di rumah untuk menunggu saatnya melahirkan pun saya masih beraktivitas normal, bahkan masih ke Jogja untuk berlebaran ke rumah mertua, masih sempat shopping ke Malioboro, masih jalan - jalan ke Solo Grand Mall #eaaa

Karena mengetahui kalau bisa melahirkan normal, maka saya memilih untuk melahirkan di bidan terdekat yang sudah punya reputasi baik. Ternyata saat periksa ke bidan pada usia kandungan 38 minggu, tensi saya tinggi (150/100) sehingga bidan tersebut menyarankan untuk menurunkan tensi dulu, kalau tensi sudah turun bidan tersebut baru bersedia membantu saya melahirkan normal. Dari situ saya sudah mulai agak khawatir kalau terkena Preklamsia.. Selama seminggu saya hanya mengkonsumsi jus seledri, jus mentimun, sayur - sayuran dan mengindari daging.. Setelah seminggu berjalan dan kembali periksa ke bidan ternyata tensi masih tinggi dan saya disarankan untuk konsultasi ke dokter kandungan yang direkomendasikannya.

Sore hari berikutnya saya datang ke Rumah Sakit dimana dokter kandungan tersebut praktek dan langsung didiagnosis preeklamsia setelah hasil uji laboratorium saya keluar. glodak dah!! yang saya khawatirkan terjadi... Gejala yang muncul sudah positif mengarah ke preeklamsia yaitu kaki bengkak, tensi tinggi (waktu itu terukur 150/100) dan urine positif mengandung protein dengan kisaran (+1).

Saat itu usia kehamilan saya 39 minggu.

Saya bertanya ke dokter yang menangani, kisaran kadar protein urine itu ada berapa? menurutnya ada empat (+1 s/d +4) dan mestinya hasil pemeriksaan adalah negatif. Jadi walaupun kadar protein urine saya waktu itu (+1) tetap harus langsung dirawat.

Jadi malam itu juga saya harus opname! tadinya saya menawar ke dokter untuk opname besok paginya saja karena saya benar - benar tidak ada persiapan untuk opname karena memang niatnya ke dokter itu hanya untuk periksa saja. Tapi kata dokter apa? "tidak bisa, ibu harus malam ini juga dirawat karena kalau pulang dikhawatirkan kejang - kejang. Bayinya kita ignore, yang penting keselamatan ibu" Gubrak!!

Yasudah, jadilah malam itu saya terdampar di Rumah Sakit dengan terbengong - bengong karena tidak menyangka kalau akan langsung di opname. Pada saat di opname saya sempat bertanya sampai kapan? katanya sampai saatnya melahirkan???, sedangkan saat itu saya belum merasakan adanya kontraksi atau pecah ketuban karena HPL saya masih seminggu lagi. Dan yang lebih membuat kaget adalah paginya jam setengah enam langsung diputuskan untuk operasi caesar!! karena setelah semalam di observasi, tensi saya masih tetap tinggi (140/100).

Tapi memang dari yang saya baca sana sini, penanganan preeklamsia adalah dengan sesegera mungkin mengakhiri kehamilan.

Alhamdulillah bayi saya sehat, saya sehat :)

Preeklamsia memang berbahaya, tapi dengan penanganan yang tepat insya Allah si ibu dan bayi sehat semua.

Jadi,, masukan untuk para bumil yang sedang menanti buah hati.. menjaga kehamilan tuh ternyata tidak hanya di trimester awal saja, tapi ternyata sampai saatnya melahirkan.. Kasus saya, selama delapan bulan selalu dalam kondisi baik dan normal ternyata saat tiba waktunya mendekati melahirkan langsung terdeteksi preeklamsia.

Kalo perkiraan saya sendiri sih, pencetusnya sepertinya adalah pola makan.. saat mulai cuti sebulan sebelum HPL, saya langsung melancarkan aksi wisata kuliner masakan khas Solo macam tengkleng, sate, tongseng, selat, sego liwet dll dll terutama yang di Jember tidak ada... hehe... saya berani makan macam begituan karena memang dokter kandungan saya yang di Jember tidak pernah melarang - larang untuk mengkonsumsi apapun, ahahaha.. #ups :D

Selamat menanti buah hati yaa.. :)

link mengenai Preeklamsia dapat dibaca di sini dan di sini



2 komentar:

  1. salam kenal, saya dian domisili kalimatan selatan. umur kehamilan 7 bulan saya sudah mengidap preeklamsia, sudah bengkak, namun karena menganggap bengkak hamil wajar saya tenang saja. ternyata baby saya tidak berkembang (bb sangat kurang) sampai dengan 38 minggu tetap tidak terdeteksi, baru saat pulang ke kediri untuk melahirkan tensi saya 140 dan terus meningkat sampai 190, akhirnya di cesar. babyku sempat diberi umur panjang sampai 22 bulan, tapi dengan segala komplikasi dan kekurangan fisiknya, namun sekarang dia sudah disurga. Beruntung mbak dan anak sehat selalu. Namun siapa tahu takhir Alloh. Semoga kita terhindar dari preeklamsia, namun beberapa artikel mengatakan preeklamsia berulang pada kehamilan selanjutnya. Jujur saya masih trauma.... terima kasi buah share nya mbak febrillia..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal, turut berduka cita untuk baby Mbak Dian.. saat itu saya cukup beruntung karena mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat sehingga dapat meminimalkan semua risiko.. Semoga traumanya segera hilang dan Mbak Dian dimudahkan untuk kehamilan berikutnya ya :)

      Hapus